OCBC NISP Kupas Proyeksi Masa Depan Perbankan

20 Mar OCBC NISP Kupas Proyeksi Masa Depan Perbankan

Setiap bisnis butuh inovasi agar dapat bertahan, tidak terkecuali dengan bisnis di dunia perbankan. Perkembangan kebutuhan manusia yang semakin beragam, bersamaan dengan menjamurnya bank-bank yang ada membuat seleksi alam tersendiri di industri ini. Beberapa hari lalu, mata kuliah Studium Generale kembali menyajikan topik mengenai perbankan Indonesia. David Formula, Executive Vice President dari PT Bank OCBC NISP Tbk bertandang ke Aula Barat ITB (16/03/16) untuk memberikan kuliah umum bertema “Peranan Perbankan Dalam Mendorong Ekonomi Nasional dari Sisi Teknologi”.

David membuka penjelasannya dengan menjabarkan berbagai jenis bank yang ada. Dari aspek kepemilikan, bank dibagi menjadi bank milik pemerintah, swasta, koperasi, campuran, dan asing. Menurut statusnya, bank dibagi menjadi bank devisa yaitu bank yang memiliki akses ke luar negeri dan bank nondevisa. Sedangkan, berdasarkan fungsinya ada bank sentral yang berperan mengatur kebijakan dan bank umum, serta bank perkreditan rakyat. Bank uga bisa dikelompokkan berdasarkan kegiatan operasional kerja yang dibagi menjadi bank konvensional dan syariah. Beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan mengenai kegiatan usaha bank. Bank-bank dikategorikan dalam buku 1-4, tergantung dari besar asetnya.

Pertumbuhan Perbankan Indonesia
Sampai hari ini di Indonesia telah terdapat 120an bank dengan jumlah cabang mencapai jumlah 3300an yang tersebar di penjuru negeri. Banyaknya bank ini salah satunya disebabkan oleh penggunaan teknologi di dunia perbankan yang masih minim. Diperkirakan, di masa yang akan datang seiring dengan kemajuan teknologi, komunikasi, dan Informasi, jumlah bank akan mengecil karena terseleksi.

Imbas dari belum unggulnya teknologi di negara ini nyata dalam angka. Hal ini dapat ditengok dari besarnya suku bunga Indonesia yang dinobatkan sebagai suku bunga tertinggi di dunia yaitu mencapai 12%. Perbaikan sistem teknologi akan berperan sebagai pemacu perputaran uang sehingga akan memperbaiki ekonomi.

Terkait dengan hal ini, pemerintahan SBY sudah memproyeksikan sebuah grand desain untuk dilakanakan tahun 2011-2025 yang bernama Master Plan Telecommunication. Perencanaan ini berupa pembangunan infrastuktur untuk mengubungkan fiber optic dari Sabang sampai Merauke. “Efeknya akan sangat terasa dari kecepatan mendownload. Nanti mendownload ber-giga-giga hanya akan memakan waktu satu klik,” ujar David. Pembangunan yang kian disempurnakan di pemerintahan Jokowi tersebut terus mengalami kemajuan dan target yang tinggi.

Indonesia Butuh Teknologi
Menurut market research yang siusung oleh IDC Final Insight, 44% masyarakat Indonesia sudah melek dunia digital. “Riset tersebut mempertanyakan kebutuhan orang Indonesia terhadap telepon seluler. Hasilnya, 9 dari 10 orang akan pulang ke rumah lagi jika HP-nya tertinggal,” kata David. Lain jika dompet yang tertinggal, ujarnya, orang cenderung untuk tetap melanjutnya perjalanan. Riset lainnya dari Global Finance Inclusion Database tahun 2015 mengatakan bahwa 35.9% orang Indonesia telah memiliki rekening di bank. Ini berdampak pada perilaku sistem pembayaran orang Indonesia yang kian bergeser. Misal dari dunia menjadi nontunai, penggunaan uang elektronik untuk memakai sarana transportasi, serta e-commerce. Ini bukannya tidak berpengaruh pada perekonomian Indonesia, justru menekan penggunaan mata uang asing dan dapat meninggikan ekonomi negeri.

Teknologi membuat manusia dapat melakukan transaksi di mana saja dan dengan waktu yang singkat. Ini memacu keterbukaan Informasi, menurunkan nilai bunga pinjaman, kejelasan dalam pengaturan, dan keterjangkauan yang melingkupi hamper semua lokasi. IT OCBC NISP Research memperkirakan beberapa jenis teknologi perbankan yang akan menjadi tren di masa depan, antara lain internet banking, mobile banking, electronic statement, ATM, video conference, dan digital branch

http://www.itb.ac.id/news/5091.xhtml